kocarKacir
May 6th, 2011 § 5 Comments
kocar-kacir,
perasaan dan akal sehat
ku, kocar-kacir
sudah setua ini,
dan mencemburui dengan kocar-kacir
..aku
malu..
-kampung laweyan, surakarta
SEKOLAH KITA?
February 24th, 2011 § 1 Comment
HIKAYAT SUKARDAL dan
SEKOLAH MASA DEPAN[1]
[…]
Tercenung sejenak, Sukardal menyalakan tombol kabel penghubung antara komputernya dengan satu layar televisi besar di sampingnya. Dalam beberapa saat, jari-jarinya sibuk mengetik dan menggerakan pensil elektronik di layar computer. Beberapa menit kemudian, beberapa rekaman film dan video muncul di layar televisi besar di sampingnya. Gambar-gambarnya cukup jelas dan tajam: sekumpulan anak-anak duduk dalam satu ruangan, semuanya berpakaian seragam, diam menyimak orang usia setengah baya sedang menjelaskan sesuatu mengenai hama ulat penggerek tangkai jagung. Sukardal sempat nyeletuk: “Hei, kenapa tidak bawa anak-anak itu langsung saja ke ladang jagung?”. Dia tahu pertanyaannya tak akan terjawab, maka segera dia memainkan tombol-tombol kotak remote control di tangannya kea rah alat perekam di bawah televisi. Sukardal memilih-milih banyak sekali potongan gambar dari berbagai tempat dan suasana yang berbeda dan merekamnya, termasuk beberapa bagian gambar yang menurutnya “aneh” atau bahkan “lucu”.
Hamper sejam kemudian dia merampungkan rekaman-rekaman gambar itu dan mengemas lempengan tipis cakram digital rekamannya. Lalu, kembali dia termanggu-manggu […] dia segera menjangkau pesawat telepon di samping meja. Dia memencat beberapa nomor dan menanti beberapa detik lagi. Satu suara berat menjawab di seberang sana dan Sukardal mulai bicara: “Hallo…selamat sore, Profesor!… Ya, saya Sukardal. Saya temukan nama dan alamat anda dalam daftar pakar di homepage Lembaga Sejara Kebudayaan… Ya, saya baru saja menemukan naskah tua di Museum Bank Naskah Nasional…tentang sekolah, Prof! Ya, sekolah! Saya ingin tahu lebih banyak, mungkin menarik untuk menjadi bahan kajian saya sekarang mengenai lembaga-lembaga masyarakat masa lalu… Bagaimana? Oh begitu! Baik, saya akan mulai mengumpulkan semua bahan sejak sekarang, Prof! Beberapa potongan film dan video documenter juga sudah saya rekam langsung dari homepage Pusat Pengkajian Masyarakat Industri Awal…ada beberapa gambar tentang sekolah dari abad lalu, juga dari beberapa tempat berbeda yang agak asing buat saya. Saya bermaksud mengundang anda menontonya nanti malam, sekaligus meminta anda sebagai nara sumber untuk menjalaskan dan membahas beberapa isi naskah tua tadi… Apa?… Baik, saya akan segera on-line dengan computer beberapa teman dan tetangga yang berminat. Segera saya kirimkan rincian informasi waktu dan tempat pertemuan kita nanti malam, Prof! Terima kasih!”
Sukardal meletakkan telepon dan segera mulai memencet-mencet tombol keyboard lagi. Tiga… lima… tujuh… Sembilan… sepuluh menit kemudian, dia kembali sudah menemukan banyak tambahan informasi baru di layar monitor. Tidak sampai sejam kemudian, dia sudah menggenggam setumpuk kertas hasil printout komputernya. Cukup tebal untuk menghabiskan waktunya hingga sore itu untuk membaca dan membuat banyak catatan-catatan.
Lepas makan malam, Sukardal dan beberapa tetangga terdekat sudah berkumpul dib alai pertemuan RT mereka yang sekaligus juga berfungsi sebagai perpustakaan kecil, ruang diskusi dan bahkan sebagai tempat minum-minum bersama. Ketika Sang Profesor tiba, diskusi langsung dimulai, sesekali diselingi beberapa potongan gambar yang telah direkam oleh Sukardal. Mejelang larut malam, mereka sudah tiba pada beberapa pemahaman dan kesimpulan pokok. Tiba-tiba Sukardal menyela:
“Siapa yang berminat ikut saya ke sekolah esok pagi?”
“Sekolah?! Belajar apa?”, tanggap seorang lelaki tua di pojok ruangan.
“Menyilang labu jenis baru, temuan saya sendiri”, jawab Sukardal singkat.
“Dimana?”, seorang ibu setengah baya menyambung.
“Ya, di sekolah saya. Dimana Lagi?” Eh, mau ikut ‘nggak, Prof?”
“Boleh juga!”, sambut Sang Gurubesar.
Dan, esoknya, mereka semua beserta beberapa orang pemuda dan remaja lain, berkumpul di kebun sayur di tanah pertanian di belakang rumah Sukardal. Kali ini justru Sang Profesor lah justru yang paling banyak bertanya, membuat catatan-catatan dalam buku sakunya, dan menawarkan jasa untuk membantu Sukardal jika ingin menulis tentang labu-labu jenis baru hasil temuannya itu. Barsama yang lainnya dengan peluh yang mulai bercucuran dan kulit wajah terbakar sinar matahari, pakar sejarah kebudayaan itu asyik mendengarkan penjelasan Sukardal dan beberapa orang tetangganya, sambil mencicipi juice labu bikinan Nyonya Sukardal dan memeriksa bibit-bibit labu baru yang siap ditanam.
Ya, sehari-hari Sukardal memang cuma petani biasa.
[…]
[1] Naskah ini disadur seutuhnya, dengan sedikit koreksi seperlunya dari tulisan Roem Topatimasang dalam buku Sekolah Itu Candu, terbitan Pustaka Pelajar bekerja sama dengan INSIST, catakan keenam, September 2004.
Naskah diambil dari bab terakhir berjudul SEKOLAH MASA DEPAN, hal. 123, paragraf ke-5 sampai selesai.
Memaknai Kehilangan
December 9th, 2010 § 16 Comments
Saya baru saja kehilangan apa yang telah begitu lama melekat. Sebuah laptop. Mesin hasil kemajuan teknologi semi-conductor yang (ironisnya) saya anggap sebagai separuh bagian dari otak organik yang mengapung di rongga kepala. Banyak pekerjaan saya selesai bersama laptop itu, uang yang sudah dihasilkan juga tidak sedikit. Sedih? Tentu saja.
Tidak banyak yang bisa saya katakan untuk menunjukkan perasaan kehilangan. Tidak cukup tersedia konsep emosi yang bisa digunakan untuk menyatakan perasaan kehilangan ini – sedih hanya salah satu dari yang sedikit itu.
Tindakan pertama saya saat mengetahui laptop separuh otak itu tak lagi berada di atas meja di samping tempat tidur adalah menyalakan mesin vespa. Saya lalu berpindah ruang ke selatan. Yang ada di kepala saat itu hanya mencari warung makan kemudian mencari ruang steril, atau bahasa kriminalnya menjauhi TKP.
Setelah mengisi perut saya lalu mengarahkan laju vespa ke pondokan teman yang terletak di selatan wilayah keraton Yogyakarta.
Suatu kebetulan barangkali, di pondokan teman itu, salah satu dari tiga orang yang berdiam di sana mengeluarkan kaset tape yang baru saja dibelinya dari pedagang kaset-kaset tua yang mangkal di ruas jalan Malioboro.
“Franky dan Jane. Aku wis suwe nggolek kaset iki, pengen nduwe koleksine. Mau liwat malioboro aku tergoda ‘e, asem! Tak tuku wae.” Kata teman itu sambil mengeraskan suara tape seukuran telapak tangan yang ada dalam genggamannya.
“Aku senenge lagu sing nang sepur,” Suara teman yang lain, “Sing critane ketemu ibu-ibu sing anake wis mati. Jebul rupa anake mirip karo sing jagong nang ngarepe.” Tambahnya lebih rinci. Tak berapa lama lagu yang dimaksud temanku terdengar. Perjalanan judul lagunya.
***
Refleks, saat mendengar suara Jane melantunkan Perjalanan saya mengidentifikasi diri, coba mencari relevansi perasaan kehilangan pada tokoh ibu yang diceritakan dalam lirik lagu. Seorang ibu yang kehilangan anak gadisnya, yang pada suatu perjalanan di atas kereta ia bertemu dengan seorang gadis yang memiliki kemiripan wajah dengan anaknya.
Bagaimana perasaan si ibu yang (mendadak) kembali mengingat anaknya yang sudah mati? Sedang saya yang hanya kehilangan mesin saja sudah seperti ini rasanya. Bagaimana dengan mereka yang kehilangan orang-orang tercinta? Bagaimana persaan sebuah kehilangan?
Perhatian saya lalu berpindah pada majalah di samping, sebuah majalah musik bergambar wajah Iwan Fals untuk sampul depannya. Wajah Iwan Fals yang tua tercetak dramatis dalam hitam putih menuntun kedalam ruang imajiner identifikasi yang lain, membawa pada khayalan tentang perasaan Iwan Fals ketika kehilangan anaknya Galang. Emosi seperti apa yang menyelimutinya saat itu? Apapun itu, tentu bukan emosi yang mudah terwakilkan oleh kosa kata.
***
Saya teringat Martin Heidegger yang menilai penting rasa seperti ini, rasa kehilangan. Saat mengalami kehilangan – atau kegagalan, manusia akan tersentak keluar dari rutinitas keseharian. Sentakan ini adalah energi potensial yang dapat membawa manusia pada kesadaran akan realitas keberadaannya. Keadaan manusia yang sejenak terlepas dari rutinitas memberikan waktu bagi dirinya untuk berkontemplasi, yang jika terus diselami pada akhirnya akan membuka pengetahuan baru tentang eksistensi asali – kondisi ideal yang lebih tinggi, makna dirinya meng-ada di dunia.
Lalu bagaimana menyikapi sebuah kehilangan? Terngiang kembali perkataan mas Pete di sepertiga terakhir malam saat kami bersiap hendak naik ke lereng Merapi. Pagi itu 23 November 2010. Mas Pete, salah satu penduduk lerang Merapi, menemani kami menanti kedatangan pagi.
Dalam obrolan ngalor-ngidul penangkal kantuk di barak pengungsi mas Pete berkata, “Mas, aku iki wis ra nduwe apa-apa. Tapi yo wis, wong dhisik aku lahir mung disanguni ari-ari, kuwi yo diketok terus di guwak.” Seorang penduduk desa yang sederhana, yang kehilangan seluruh harta bendanya saat merapi menenggelamkan desanya tanpa sisa, mengajarkan filosofi hidup yang kuat. Filosofi hidup yang menguatkan ; bahwa manusia lahir di dunia tanpa membawa apa-apa.
-1 muharram 1432H
Alun2 Kidul SOLO | sebuah perjalanan spontan*
October 18th, 2010 § 4 Comments
Sudah sejak lama saya meyakini, atau mensugesti diri saya untuk yakin, bahwa spontanitas jauh lebih menarik dibandingkan perencanaan. Dasar keyakinan saya adalah ; spontanitas menjanjikan lebih banyak kejutan, sedang hal yang terencana tidak.
Boleh dikata kultus spontanitas ini saya amalkan dalam hampir seluruh dimensi kehidupan saya, misalnya saat memilih jurusan kuliah, mencari pekerjaan, atau mengakhiri pekerjaan. Termasuk ketika melakukan suatu perjalanan. Dan semua yang saya lakukan saya lihat sebagai suatu petualangan.
Banyak kritik yang saya terima dari orang-orang dekat tentang keyakinan saya ini, tapi selalu saja saya acuhkan kritik mereka, “Biarkan alam menunjukkan dirinya, cukup persiapkan dirimu untuk menyambut setiap kejutan.” kataku membela diri. Apakah mantra pembelaan diri saya di atas sahih? itu tidak menjadi hal yang begitu mengganggu saya, toh saya tidak pernah memaksa mereka mengikuti pertualangan spontanitas yang saya lakukan.
Petualangan spontanitas saya yang terakhir terjadi di Solo (dalam sejarah yang mengulas pergerakan Sarekat Islam yang saya baca kata Solo ditulis Sala).
Solo sebuah kota tua dengan sejarah panjang kerajaan islam-jawa, rahim tempat emberio gerakan nasionalis bersemai, perpecahan tahta, kekelaman konflik entnis, lalu di permulaan abad 21 ini bangkit dan mendapatkan pujian dari banyak orang, termasuk masyarakat umum tentusaja, untuk keberhasilannya merelokasi pedagang kaki lima (PKL) tanpa sedikitpun kekerasan.
Hari itu seorang diri saya berada di Solo, adik saya harus berada di kampusnya dan masih 6 jam lagi sebelum saya bertemu dengan teman yang bersama dengannya saya akan kembali ke jogja. “Baiklah, ada sepeda motor milik adik dan kamera saku di dalam tas. Mari menyambut kejutan.”
maka petualangan pun dimulai.
***
Tujuan pertama saya adalah daerah alun-alun, alasannya sederhana : dalam kosmologi jawa, landmark sebuah kota adalah alun-alun, begitu juga pusat kehidupan.
Kosmologi ini terwujud dalam tata ruang kota-kota tua di pulau jawa, di mana alun-alun menjadi ruang publik utama dan di sekitarnya berdiri gedung pemerintahan (keraton), aktifitas keagamaan (masjid), sentra ekonomi (pasar) dan simbol rust en order (penjara). Tentu saja tipikal tata ruang seperti ini sudah banyak bergeser sebab pengaruh ilmu pengetahuan modern, tapi peninggalannya masih bisa kita jumpai di beberapa kota tua di tanah jawa, salah satunya di Sala atau Solo.
Meluncurlah saya ke alun-alun Solo. Tidak susah mencari jalan ke sana, papan penunjuk arah selalu ada di setiap simpangan. Saat berputar di alun-alun utara menuju pasar Klewer saya menjumpai penunjuk arah ke alun-alun selatan, tanpa pikir panjang motor saya belokkan mengikuti arah panahnya. Ini kali ke dua saya di alun-alun utara, dan pertama kalinya saya akan ke alun-alun selatan. Sebuah spontanitas? Ya.
Setelah beberapa menit menelusuri jalan sesuai petunjuk saya berpapasan dengan sebuah motor yang keluar dari mulut gang. Saya segera berbalik arah, memasuki gang tadi dengan berspekulasi ada jalan singkat di ujung gang yang akan terhubung dengan jalan utama ke arah alun-alun selatan.
Tidak seberapa lebar, gang itu terbentuk dari tembok tinggi bercat putih – kusimpulkan sebagai dinding keraton – dan deretan bangunan tua pada sisinya yang lain. Jika melihat aktifitas pekerja yang tampak dari jendela belakang, barisan gawang bambu setinggi lutut dan anyaman lembar-lembar bambu sebesar tempat tidur ukuran satu badan saya duga deretan bangunan ini adalah pabrik batik.
Hore! Tebakan saya benar, tak butuh waktu lama sampai saya tiba di pintu gerbang alun-alun selatan. Dan mahluk yang pertama saya jumpai adalah kawanan kerbau di dalam kandang besi yang luas. Di tengah-tengah kandang berdiri sebuah pendopo. Di sebelah kiri dari arah saya datang, pada seberang jalan yang mengitari kandang, empat orang penjual kangkung duduk menghadapi dagangan mereka. Saya segera menepi.
KYAI SLAMET
Seorang bapak penjual kangkung mendekat, “Buat ngasih makan kerbau, mas.” tawarnya saat menyodorkan beberapa ikat kangkung.
“Pinten, pak?” tanya saya.
“Satu ikat cuma seribu, mas.” jawabnya lagi.
Selembar uang dua ribu rupiah dari saku celana saya berikan padanya. Membawa dua ikat kangkung, saya berjalan ke arah pagar kandang.
Di tepi kandang, ditemani orang tuanya, beberapa anak kecil terlihat asik memberi makan kerbau berwarna putih. Saya ikut bergabung, seekor kerbau hitam mendekat ke tepi pagar. Pada hidungnya yang basah kangkung saya dekatkan, hap si kerbau mengunyah kangkung pelan. Tidak hanya kangkung, ada juga yang datang membawa ketimun untuk kerbau-kerbau ini. Setelah habis ikatan yang kedua saya berbalik, melangkah ke arah bapak penjual kangkung tadi. Saatnya bertanya-tanya.
Saya pernah baca di sebuah surat kabar nasional di Keraton Solo ada kerbau yang dipandang istimewa, atau keramat dalam istilah yang lebih mistis. Tak diragukan lagi inilah kerbau itu, untuk mendapatkan pejelasan yang lebih lengkap saya berbincang dengan bapak penjual kangkung.
Menurut penuturan si bapak penjual kangkung, kerbau-kerbau tadi adalah keturunan Kyai Slamet, konon kotoran Kyai Slamet diyakini membawa berkah. Kyai Slamet sendiri sudah lama mati, tapi sampai hari ini sisa pencernaan keturunannya diyakini sama bertuah seperti milik Kyai Slamet.
Masih bersumber dari si bapak penjual kangkung. Seperti moyangnya dulu, setiap malam suro keturunan Kyai Slamet diarak mengelilingi tembok keraton. Saat prosesi arak-arakan inilah warga akan mengambil kotoran kerbau dan dibawa pulang. Biasanya kotoran kerbau akan disebarkan di sawah atau ladang mereka. Mereka percaya dengan melakukan ini maka hasil panen akan baik.
Cukup dengan cerita kotoran kerbau. Saya bergeser ke lapak sebelah. “Setiap hari jualan di sini, Bu?” tanyaku.
“Ndak mas, kerbaunya hanya di kurung kalo hari jumat dan minggu. Hari lain kerbaunya dilepas di alun-alun jadi saya ndak jualan.” jawabnya.
“Mas wartawan mana?” si Ibu balik bertanya.
Wartawan? Apa penampilan saya seperti wartawan yang kebingungan nyari berita sampai nyasar ke kandang kerbau?.
“Saya bukan wartawan, bu.” jawab saya.
“Masa sih mas, nanti masuk di majalah apa mas?”.
“Bener bu saya bukan wartawan.” kataku terkekeh.
“Ini kangkungnya kulakan di mana, bu?” tanyaku coba mengalihkan topik pembicaraan.
“Di pasar to mas.”
“Lha iya, pasar mana, bu?” ternyata kemampuan saya menyusun kalimat masih buruk.
“Banyak kok mas di pasar.”
Mungkin maksudnya di pasar mana saja banyak , pikirku. Menyerah dengan dialog ini saya ganti pertanyaan lain.
“Itu di alun-alun utara ada sirkus ya bu, udah nonton belum?”
“Aku ndak nonton mas, cuma anakku sama suamiku.”
“Lho, kok gak ikut nonton bu?”
“Ndak mas, yang penting anakku senang. Aku ndak nonton ndak papa.”
Satu sepeda motor mendekat, Meninggalkanku, si Ibu menghampiri pengendara sepeda motor. “Ngasih makan kerbau Pak.” tawarnya pada bapak yang berbonceng tiga bocah. Si bapak membeli tiga ikat kangkung. Si ibu penjual kembali ke lapaknya, duduk di sebelahku.
“Eh, Ibu udah punya anak?”
“Udah mas.”
“Suaminya kerja di mana?” tanyaku.
“Mburuh mas, kerja tukang.”
Ada yang bilang kalo saya bertanya sudah seperti mengintrogasi orang. Khawatir si Ibu merasa diperlakukan seperti tawanan perang di penjara Alcatraz kuputuskan membeli beberapa ikat kangkung di lapaknya, lalu berjalan ke arah pagar pembatas kandang.
Ikatan kangkung kubuka. Kubagi kangkung ke dalam beberapa genggam dan keberikan pada tiga bocah di sebelahku. Kamera saku pinjaman ku keluarkan dari dalam tas, tanpa pretensi menjadi wartawan saya memotret berulang-ulang. Lebih sepuluh jepretan tapi hasilnya tak juga memuaskan, untungnya ini kamera digital, jadi tak banyak keluar uang untuk mencetak hasil foto seperti jaman kuliah dulu.
“Pak, foto rame-rame ya..?” saya coba merayu keempat penjual kangkung.
“Oke, mas. Nanti masuk majalah mana? tanya salah seorang dari mereka.
“Pak, saya bukan wartawan.”
“Masa sih mas? Yo wes gak papa.”
“Sek mas, aku tak sisiran dulu.” kata bapak yang satu lagi.
Satu-dua guyonan lagi dan mereka berfoto bersama. Dengan gaya yang – kalau boleh ku bilang – annoying, keempat penjual kangkung di kandang keturunan Kyai Slamet memberikan ku sebuah souvenir yang ter-digitasi.
Bersambung bagian-2
Mencari Kampung Halaman
September 10th, 2010 § 9 Comments
Ini lebaran ke dua yang saya jalani di rumah dalam 11 tahun terakhir. Yang pertama terjadi 3 tahun lalu, kami seluruh anggota keluarga berkumpul, hal yang sangat jarang terjadi. Dan yang ke-2 ini hanya saya dan mama yang berada di rumah, bapak berlebaran di rumah orangtuanya, kakak saya yang tertua sedang berada di sulawesi dan kakak saya yang nomor dua kini berlebaran di rumah suaminya.
Dua hari lalu, saat saya dan mama sedang berjalan-jalan di luar seusai makan malam kami bertemu dengan salah seorang pemuda tetangga kami. Entah sekadar basa-basi atau memang ada niatan yang serius pemuda itu bertanya, “Ndak pulang kampung, bu?” Mama yang diberikan pertanyaan lantas menjawab “Tidak, lebaran di sini saja.” Karena merasa pertanyaan itu bukan untuk saya, saya hanya diam saja.
Ya, pertanyaan itu ditujukan untuk mama, jika saya mengurutkan struktur kalimatnya. Akhiran bu sebagai predikat yang ditambahkan pada akhir pertanyaan menjadi dasar asumsi saya. Secara paradigmatik, yang dimaksudkan pemuda tadi dengan kata kampung adalah kampung asal muasal mama, bukan kampung seluruh keluarga kami. Itulah hasil analisa serampangan saya.
Berangkat dari hasil analisa di atas maka kata tidak dalam jawaban mama berarti; tahun ini mama tidak pulang ke kampungnya di Ternate; bukan, kami sekeluarga tidak pulang ke kampung kami. Jika jawaban pertama yang saya acu, tidak terjadi permasalahan tambahan, namun jika sebaliknya yang saya lakukan maka inilah hasilnya : sebuah tulisan yang berputar-putar tentang “kampung halaman”.
Cerita Dua Bapak
Karena suku bapak berbeda dengan mama, maka menjadi amat sulit untuk memutuskan di mana letak kampung keluarga kami berada. Secara pribadi pun saya mengalami kesulitan untuk berimaji dimana letak kampung halaman saya.
Bagi saya yang lahir di pulau papua, hidup 15 tahun di atas tanahnya dan kemudian selama 10 tahun berada di jawa persoalan seputar kampung halaman dan upaya-upaya untuk bisa pulang kepadanya sudah sangat lama saya lupakan. Lalu mengapa kini saya menulis tentangnya?
Saya sebut ini adalah sebuah pensiasatan, ikhtiar untuk menemukan kampung halaman bagi diri saya sendiri.
***
Membayangkan kampung halaman bagi saya tidak cukup hanya berupa ruang, namun juga harus melibatkan perasaan. Karena bisa jadi tempat yang selama ini kita anggap sebagai kampung halaman ternyata setelah kita datangi tak lagi memiliki interaksi perasaan dengan kita. Atau lain lagi, tempat yang dulunya adalah kampung halaman kita, kini setelah puluhan tahun kita tinggalkan serasa menjadi tempat asing bagi kita.
Sepanjang minggu terakhir puasa saya ada dua cerita dari dua orang bapak. Dari cerita kedua bapak itu pula emberio tulisan ini tumbuh dan membesar.
Cerita pertama datang dari bapak saya, sudah hampir satu tahun ini menetap di kampung halamannya, tidur di rumah di mana dulu ia dibesarkan, hidup serumah dengan ibu kandungnya. Tapi tiga hari lalu — melalui percakapan telepon — ia berkata kepada saya bahwa lebaran tahun ini ia tidak akan berlama-lama berada di kampung. Isyarat ke-tidak-betah-an semakin kuat tertangkap, baik saya maupun mama sepakat : bapak tak lagi nyaman berada di kampungnya. Sebuah anomali ketika pada momentum yang sama di jawa sana orang meluap dari jakarta, mudik menuju kampung mereka masing-masing.
Beda bapak saya, beda lagi bapak-mertua kakak saya. Kurang lebih 4 hari sebelum percakapan saya dengan bapak via telepon tadi, saya bertemu dengan bapak-mertua kakak saya. Dalam perjalanan dari bandara, di sela obrolan dengannya tiba-tiba ia berkata “Rambut dan hati saya ini sudah keriting.” Maksudnya jelas, ia sudah menjadi orang papua, meski dirinya berasal dari jawa sana. Atau dalam konteks tulisan ini, kampung halamannya kini di papua, bukan lagi jawa.
Bapak saya sudah lebih dari 20 tahun tinggal di papua, berawal dari pedalaman di pulau Serui di tahun 70an dan berakhir di kota Port Numbay tahun 2009. Entah bagaimana detail cerita kehidupan bapak-mertua kakak saya, tapi saya yakin ia pun sudah lebih dari 20 tahun hidup di papua. Apa penyebab kedua bapak yang sama-sama “orang” jawa itu bisa memiliki konsepsi berbeda tentang kampung halaman? Perasaan.
Inilah yang saya maksudkan dengan melibatkan perasaan dalam menentukan kampung halaman. Bapak saya merasa (atau menyangka) kampung halamannya berada di jawa sana, tempat di mana ibunya berada sekarang, tapi apa yang dialami setelah berada di sana? dirinya merasa terasing. Sebaliknya dengan bapak-mertua kakak saya, ia merasa papua lah kampung halamannya.
Pada Lembar yang Lebih Besar
Cerita dua bapak di atas saya jamin bisa kita jumpai pada para perantau yang lain, yang berada di Sumatra, di Kalimatan, di Jawa, di Sulawesi.. di mana saja di Nusantara ini. Orang-orang yang meninggalkan tempat lahir mereka dan menuju tanah baru, yang membangun hidup, cinta dan persahabatan hingga akhirnya merasa di tempat baru inilah kampung mereka yang sebenarnya.
Sayangnya dalam pola pikir manusia yang terstruktur dan katagorial, soal kampung halaman lalu menjadi alat untuk mengidentifikasi. Apa lacur katagori yang tersusun menjadi diskriminatif, bahkan kerap kali digunakan dalam wacana politik. Seperti yang saya rasakan di papua.
Keluarga kami yang sudah 20 tahun makan dari tanah papua dan mencuci diri dengan airnya masih saja dilihat sebagai pendatang, tak ubahnya mereka yang baru 2-3 tahun berada di sini. Dan di mana pun — tidak hanya di papua — pengkatagorian dengan dikotomi seperti pendatang-pribumi sangat dekat dengan konflik, baik horizontal maupun vertikal. Di samping itu, ada beban sosial maupun psikologis yang membuntuti kedua katagori tersebut.
Sedangkan jika melihat segi perbuatan, seorang pendatang belum tentu membawa sifat-sifat buruk dan berasal dari jenis yang oportunis, pribumi pun tidak lantas menjamin akan selalu memikirkan yang terbaik bagi kampung dan masyarakatnya. Karena semua itu lebih bergantung pada bagaimana seorang individu memandang dunia dan menempatkan diri di dalamnya, bukan oleh asal muasal tempat lahir dan garis darah.
Tidakkah di sela-sela konflik dan perdebatan mereka pernah bertanya, apakah manusia pertama — nenek moyang mereka — muncul begitu saja dari dalam tanah? tidakkah pada masa yang sangat lampau sebuah ekspedisi pencarian tanah baru pernah dilakukan, dengan motivasi sama yang dilakukan para perantau yang perpindahan dengan transportasi moderen seperti sekarang ini?
Tapi begitulah indonesia. Orang saling sikut dan berebut apa yang ditumbuhkan alam. Untuk membenarkan perbuatannya mereka menyudutkan pihak lain, membedakan antara yang pendatang dan pribumi, mencap atheis dan komunis, dengan fasih menuduh siapa yang sesat dan mengklaim dirinya sebagai yang taat.
***
Akhirnya saya sampai pada kesimpulan bahwa di usia saya yang menjelang 1/4 abad ini saya tidak memiliki kampung halaman, kecuali sebuah bentangan yang dikenal sebagai Nusantara inilah yang menjadi kampungku. Sebab sebagai seorang pelintas laut, saya ingin dapat pergi dari syahbandar mana saja dan pulang pada kampung di mana saja, tanpa merasa terasing, tanpa ada diskriminasi dan kebencian.
Seorang besar pernah berkata, “Untuk menjadi orang indonesia kamu harus mengenali siapa indonesia itu, dan untuk mengenali siapa indonesia tidak bisa tidak kamu harus mendatangi tiap-tiap daerahnya.” Semoga kita semua mampu melakukannya..
Selamat Idul Fitri, mohon maaf..
Port Numbay, 09-10 September 2010
Ke Arso (Lagi)
July 18th, 2010 § Leave a Comment
Sudah lewat tengah malam saat email yang terakhir saya kirim. Sebuah pesan singkat saya tulis untuk seorang teman di Jawa, berisi ucapan selamat malam dan berpamitan karena saya harus tidur lebih awal dari biasanya. “Besok harus berangkat pagi-pagi.” kataku.
Tapi belum lagi genap 4 jam ketika saya terbangun pukul 03.29, udara dingin sedang turun dan saya hanya bercelana pendek –selimut sudah saya tinggalkan sejak pertama kali berada di Jayapura, udara di sini lebih sering gerah bahkan di saat subuh. Setelah memeriksa security update yang masih berlangsung di layar monitor laptop saya mencoba kembali tidur.
Satu setengah jam, dua kali perpindahan kamar dan sepotong donat mengantarkan saya kembali ke depan laptop. Kali ini dengan jaket dan sarung. Pemutakhiran keamanan saya hentikan, 9 dari 10 file berhasil terunduh. Untuk memecah kebisuan kutarik Keane keluar dari kotak mereka, The Theft of Octo. Entah bertutur tentang apa album yang di rilis tahun 2007 ini, tapi suara Thomas Oliver Chaplin yang lembut dan aransemen musik mereka yang jauh lebih “gelap” dibandingkan Hope And Fears menyerap dengan mulus di antara dingin yang masih terasa pada ujung kaki.
***
Tidak. Ini bukan perjalanan saya yang pertama ke Arso, tujuan saya pagi nanti. Persoalannya adalah, sejak berada di jayapura awal tahun ini terhitung lebih 5 bulan saya selalu tidur setelah jam 3 pagi, beberapa kali bahkan setelah jam 7 pagi. Tentu saja berat untuk saya merubah jadwal tidur hanya dalam semalam.
Kunjungan saya ke Arso pertama kali kurang lebih satu bulan lalu. Ketika itu sedang libur sekolah, mama mengajak saya untuk mengunjungi keluarga Om di sana, tepatnya di Arso 2 –wilayah Arso terbagi dalam angka-angka, seperti Arso 14, Arso 2, Arso 7 dan seterusnya sampai. Angka-angka ini tidak selalu berurutan, jika berkendara dari arah Abepura kita Arso 7 akan lebih dulu dijumpai, setelah itu Arso Swakarsa baru kemudian Arso 2. Selain itu ada juga Arso Kota dan Arso PIR (Perkebunan Inti Rakyat). Tentu saja saya mau menerima ajakan mama, meski tidak dengan antusias.
Arso 2 bukanlah daerah yang buruk, sebagai salah satu kawasan transmigrasi di Jayapura penduduk daerah ini termasuk jenis transmigran yang berhasil. Mayoritas rumah penduduk sudah tersusun dari batu, tidak ada lagi rumah kayu seperti yang saya jumpai 10 tahun lalu. Apa yang membuat saya enggan adalah jarak perjalanan selama 1 jam 30 menit. Tidak lama memang, tapi dengan kondisi jalan dan jenis angkutan yang tersedia, saya akan lebih suka tetap tinggal di dalam rumah seandainya tidak ada keluarga yang harus dikunjungi di sana.
Setelah menumpangi ojeg dan sebuah angkot, kami –saya dan mama– sampai di terminal angkutan pasar Yotefa, terminal ini adalah simpul jalur angkutan dari dan ke daerah pinggiran di timur kota Abepura seperti Arso, Koya dan juga ke arah perbatasan PNG.
Di salah satu sudut terminal tampak sebaris mobil kijang yang berdebu dan penuh guratan. Berbeda dengan umumnya terminal antar kota di jawa, kijang-kijang ini berbaris di tempat terbuka dan tanpa papan penunjuk tujuan di atasnya. Walhasil untuk menemukan kijang yang sesuai dengan tujuan kita harus bertanya satu persatu pada sopir atau joki yang berada di sela-sela deretan kijang.
Awalnya saya berpikir perjalanan ini akan menggunakan bis kecil berpintu dua, seperti yang pernah saya gunakan saat ke Arso tahun 2008 silam. Ternyata saya salah, bis Ramayana –yang garasinya di samping rumah teman SD saya– kini melayani trayek Abepura-Sarmi, jarak yang lebih panjang dan perjalanan yang jauh lebih seram dibandingkan Abepura-Arso (setidaknya kesan itu yang ada di kepala saya, sebab saya sendiri belum pernah berkunjung ke Sarmi, Kabupaten baru di barat Jayapura).
Setelah menemukan kijang yang tepat kami segera menaikinya, saya dan mama menempati jok di bagian tengah perut kijang, berbagi dengan seorang bapak tua yang berkacamata hitam. Selain jok milik sopir dan yang di sebelahnya, tak ada lagi jok orisinil di dalam kijang ini, baik bentuknya maupun letaknya. Jok di belakang sopir sudah di majukan dan jok di bagian belakang, yang mestinya berhadap-hadapan, sudah digantikan dengan satu jok lurus menghadap ke depan. Di antara keduanya inilah saya duduk, tanpa ruang yang cukup untuk tungkai saya yang panjang.
Setelah saya dan mama, menyusul 2 penumpang lagi. Seorang mengambil tempat di jok paling belakang dan yang seorang lagi berbagi dengan penumpang lain di sebelah kiri sopir. Setelah semua tempat dianggap terisi oleh sopir, hal yang masih harus diperdebatkan, barulah mesin di nyalakan. Kijang kami perlahan keluar dari barisan, meninggalkan kijang-kijang lain yang masih menanti penumpang, melewati pintu retribusi berpetugas dan sebuah jembatan lalu kubangan. Saya terjepit di dalam perut kijang yang penuh, kata “penuh” terasa seperti penghalusan makna untuk apa yang sebenarnya –dalam pikiran saya– meluap. Semoga si kijang tak akan muntah.
10 menit meninggalkan terminal, deretan rumah berganti sepunuk gunung kapur dan perairan hijau, inilah teluk Yotefa yang terkenal itu. Sebuah teluk teduh dengan dua kampong di tengahnya, kampong Enggros –atau Injros dalam beberapa literatur sejarah penyebaran Injil di Papua, dan kampong Tobati.
Enggros adalah kampong dimana penginjil Van Hassel pertama kali menginjakkan kaki di Jayapura, atau Hollandia di masa kekuasaan Belanda. Sebuah monumen kedatangan Injil yang besar di bangun di pantai kampong Enggros. Dalam setiap perayaan tahunan kedatangan Injil di Jayapura, ribuan umat Kristen datang untuk melakukan ibadah syukur di pulau ini. Pada perayaan seabad kedatangan Injil ke tanah Jayapura di bulan Maret yang lalu (tahun 2010), cicit Van Hassel bahkan menyempatkan diri untuk terbang dari Belanda dan hadir dalam ibadah syukur bersama penduduk lokal.
Lepas dari teluk Yotefa si kijang memasuki kampong Nafri, penduduk asli Jayapura yang lain bermukim di kampong ini. Sedikit mendaki kami lalu tiba di kampong Koya Koso, dari kampong ini lah –kata mama– sebagian besar pinang yang dijual di jalan-jalan kota Jayapura berasal, barisan pohon pinang tampak semarak beberapa ratus meter di lembah di bawah kami. Pinang adalah “camilan” utama bagi masyarakat papua, segala umur menyukainya, bahkan di kalangan anak-anak pendatang –situasi yang sangat langka sepuluh tahun lalu. Seorang teman bahkan menjuluki pinang sebagai buah sombong, “Sebab,” katanya mencoba menjelaskan “Bahkan ketika bertemu presiden di Jakarta pun buah ini tidak ketinggalan.”
Meninggalkan Koya Koso, melewati Koya (tanpa tambahan di belakang seperti Koya Koso) kami kemudian memasuki daerah Skamto, sebuah jembatan lalu tampak lapangan luas dengan bangunan hijau memanjang di belakangnya. Sebuah papan bercat putih bertulis Batalyon Infantri 751, Kompi Senapan. Jalan kembali mendaki, tiba-tiba pada mulut tikungan tertempel angka 713 bercat merah putih di sisi kiri jalan. Di sebelah kanan, di atas kepala kami, berdiri sebuah pos tentara pada ketinggian, sebuah tangga kayu yang sempit merupakan satu-satunya akses normal ke dalam. Pada dinding tebing di bawahnya relief pasukan penerjun dan burung rajawali terlihat mencolok. Belum lagi 30 menit kembali sebuah pos tentara berdiri di sebelah kanan jalan. 713, rupanya masih satu rumpun dengan pos pertama tadi.
Tidak banyak lagi hal menarik setelahnya, nyaris yang bisa dilihat hanyalah belukar di atas rawa diselingi lahan gambut dan kebun penduduk. Beberapa kali kami berada dalam wilayah blank spot, tidak ada sinyal operator seluluer meski hanya segaris. Beberapa kilometer menjelang daerah Arso, di sebelah kiri jalan tampak tumpukan batu kali seukuran kepala bayi dan gunungan pasir. Terlihat beberapa orang pekerja, semua orang pendatang, sedang bersenda gurau sembari melepas lelah. Pemerintah Keerom, kabupaten yang mencakup seluruh wilayah Arso, Senggi dan Web sedang melakukan pelebaran jalan.
Dahulu Arso masih termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Jayapura. Setelah pemekaran Arso menjadi kabupaten sendiri dengan nama Kabupaten Keerom, Jayapura menjadi Kota Madya dan pusat pemerintahan Kebupaten Jayapura diboyong ke daerah Sentani. Pemekaran ini terbukti positif, wilayah Jayapura yang luas mejadi lebih efisien dalam birokrasi, pembangunan lebih tersebar dan banyak sekali angkatan kerja baru yang terserap ke dalam pemerintahan. Di sana-sini banyak dijumpai bangunan baru, bapak saya bahkan berani menyimpulkan; alam 10 tahun ini pertumbuhan di Jayapura lebih pesat daripada di Jawa. Tentu saja simpulan ini dilihat dari sisi laju pertumbuhan bukan ketersedian fasilitas.
1 jam 30 menit. Situasi terjepit saya di dalam perut kijang berakhir, sopir menepikan kijang di sebuah pertigaan dengan papan penunjuk di atasnya: Arso 2 dan panah ke arah kanan. Saya dan mama turun, 26.000 tarif untuk 2 orang, seorang 13 ribu rupiah. Tidak mahal, seandainya saya tidak terjepit.
Inilah Kita, Bangsa Gossip dan Sensasi*
July 7th, 2010 § 5 Comments
*Tulisan lama yang telat aku muat. Untuk alasan ke-otentik-an tulisan ini kumuat tanpa revisi terutama bagian video porno artis.
Beberapa minggu terakhir televisi dipenuhi dengan berita (dan gossip) tentang video porno (mirip) tiga orang selebritis yang kerap wirawiri di layar kaca. Kesibukan tidak cuma melanda program gossip – nama menterengnya infotainment , program berita serius ikut berkasak-kusuk dengan keramaian yang luar biasa: pernyataan sikap serius pihak kepolisian dalam melakukan penyidikan, pernyataan dari saksi ahli yang anggota parlemen yang juga (katanya) pakar telematika, boikot artis terkait dibeberapa kota, wawancara eksklusif dengan tersangka, berikut pemunculan terdakwa di layar kaca yang didramatisir dengan dengan efek slow motion dan lagu latar yang mengejek. Popularitas berita ini sampai perlu ditanggapi seorang mentri dari partai islam yang mengeluarkan pernyataan bodoh; mengaitkan video porno artis dengan sejarah keyakinan agama tertentu.
Hiruk pikuk ini mengingatkan saya pada kisah Prita Mulyasari dan RS Omni. Diawali dengan sebuah email Prita untuk temannya tentang kekecewaan Prita pada pelayanan RS Omni, ibu ini kemudian di tuntut pihak rumah sakit. Publik marah besar. Berbagai dukungan mengalir dengan ragam rupa yang belum pernah ada sebelumnya; grup simpatisan Prita hadir dalam situs jejaring sosial internet, email yang terus saja menyebar tanpa kendali dan puncaknya gunungan koin untuk Prita.
Antusiasme dukungan publik pada Prita Mulyasari belakangan menimbulkan minat para pengamat politik untuk berteori tentang kelahiran (kembali) demokrasi massa. Internet mengembalikan kekuatan pada rakyat.
Bentuk dukungan melalui jejaring sosial kemudian dicoba untuk dua pimpinan KPK yang ditengarai melakukan pemerasan. Sayangnya setelah konser dukungan para seniman yang mendapat liputan luas media, keramaian ini kemudian surut, berganti dengan hiruk-pikuk baru. Seorang dari ibukota mengirim pesan singkat kepada saya, “dukungan virtual tidak memiliki korelasi dengan dukungan politik riil”. Terkesan apatis, tapi begitulah kenyatannya.
Lalu muncul skandal uang 6 triliun untuk menyelamatkan bank Century, sebuah bank yang bagi sebagian besar dari kita belum pernah terdengar sebelumnya sampai kehebohan yang timbulkan pada ruang-ruang berita dan debat layar kaca. Dalam berbagai publikasi hasil investigasi baik yang dilakukan LSM maupun perseorangan muncul indikasi dana penyelamatan itu justru menguntungkan kelompok nasabah tertentu. Ancaman potensi krisis moneter yang menjadi pembenaran pencairan dana bahkan dianggap terlalu lemah bagi sejumlah Ekonom.
Demonstrasi dan kecaman tentu saja bermunculan, tapi dilakukan hanya oleh nasabah bank Century dan segelintir pengamat ekonomi di luar pemerintahan. Sedangkan kita – yang uangnya tersimpan aman di bank lain – hanya menyimak berita dengan sesekali menggumamkan simpati. Tidak ada rasa marah. Tidak terpikirkan oleh kita uang 6 triliun itu – jumlah yang terdengar nyaris seperti fiksi – diambil dari kantong pemerintah. Uang rakyat, uang kita, dibajak dengan dalih “berdampak sistemik”. Dan kita tidak marah.
Juga tidak ada kemarahan meski kita tahu ratusan ribu anak kehilangan tempat bermain ketika lumpur meluap di Sidoarjo, harta yang terendam dan kampong halaman yang hilang. Malapetaka yang oleh tim investigasi independen disimpulkan sebagai murni kesalahan proses pengeboran, bukan sebab alam. Kita tidak mencaci pemilik PT Lapindo Brantas yang belum menyelesaikan kewajiban kompensasi kerugian sehebat kita mencaci RS Omni.
Ketika pejabat Bank Indonesia yang bertanggung jawab dalam pencairan uang 6 triliun untuk bank Century menjadi orang nomor 2 di negara kita, kita tidak marah. Tidak juga ada rasa ingin tahu kemana aliran dana bank Century mengalir, jauh berbeda dengan antusiasme kita mengikuti kisah video porno (mirip) artis sambil kasak-kusuk bertanya ke kiri dan kanan, siapa yang sudah menonton videonya.
Atas nama tugas dan pengabdian serta restu bapak presiden seorang mentri mengundurkan diri, naik pesawat dan menjadi staff bank dunia nun jauh di sana, tapi kita masih juga tenang-tenang saja. Tanggung jawab sang mantan mentri atas uang 6 triliun seakan tak berarti apa-apa. Mungkin kita mengumpat, tapi setelah hari berganti dan sensasi baru dihadirkan, dengan sadar kita melupakan kekesalan dan mengalihkan perhatian. Sebuah pengulangan pada mekanisme pelupaan, semakin lama kita menjadi semakin kebas dan melihat apa-apa yang berlangsung hanya sebagai berita-yang-tak-sengaja-melintas.
Bangsa Sinetron
Ya inilah kita, bangsa sinetron. Begitu terlontar sebuah kasak-kusuk yang berbau skandal, selingkuh pornografi dan yang sejenis antenna penangkap sinyal kita sontak aktif, berputar satu lingkaran penuh mencari lebih banyak lagi sumber berita hingga ke bagian yang paling detail; Bumbu-bumbu penyedap.
Tidak hanya sebatas individu pasif yang menyerap. Dengan bahagia kita lalu bertransformasi menjadi agen penyebar berita. Ironisnya semua peran ini dilakukan tanpa pemaknaan. Nyaris tak ada pertanyaan, “Kenapa berita ini saya konsumsi?” atau yang lebih jauh lagi “Kenapa berita ini yang ramai di media, bukan berita itu?”.
Setelah semua dukungan untuk Prita dan hujatan pada pihak rumah sakit, apa yang tertinggal di benak kita? TIDAK ADA. Mungkin kita akan terus mengiat nama buruk RS Omni Internasional, tapi kita tidak mengingat kejahatan bisnis rumah sakit yang marak berlangsung di bangsal-bangsal pasien. Dukungan Siti Fadilah Supari, mentri kesehatan saat itu, pada Prita boleh jadi masih tersimpan pada puncak ingatan, tapi tanggung jawab pemerintah dalam mengawasi pelayanan kesehatan kita tendang jauh-jauh ke dalam dasar berkas-berkas ingatan. Sumbangan koin yang terus mengalir sangat mungkin menimbulkan decak kagum kita, tapi tidak adanya gerakan publik untuk mengecam kualitas pelayanan kesehatan negara kita terima tanpa rasa heran. Bukan niat saya untuk menyepelekan perlakukan buruk RS Omni Internasional kepada ibu Prita, melainkan lebih pada sikap kita sendiri: sikap pemirsa sinetron.
Kita menyimak peristiwa sambil lalu. Dangkal. Masuk ke dalam pusaran berita tanpa cukup bekal pengaman. Tenggelam dalam hiruk pikuk sentimentil, menikmati tayangan kejahatan perusahaan tak ubahnya kejahatan ibu mertua pada menantu perempuannya. Menyaksikan kejahatan terinstitusi dalam negara seperti kejahatan saudara tiri pada upik abu yang malang. Ramai-ramai memperbincangkan Ponari dan batu bertuah tapi melewatkan sikap anggota dewan yang menjadi-jadi. Setelah semua sakit hati yang tidak lebih besar dari sikap acuh tak acuh, kita memunggungi layar televisi kemudian berkata “Itu hanya sinetron.” Apakah Satpol PP yang oleh mendagri akan dipersenjatai juga sebuah episode sinetron?
Benar para wartawan hanya melaporkan apa yang mereka temukan, benar media menyampaikan apa yang terjadi di masyarakat. Sayangnya kita lupa ada kekuasaan yang terus mengangkangi berita, ada kepentingan elit partai dan pemerintahan yang bermain dengan pemodal media. Media tidak hanya menyampaikan kebenaran, lebih dari itu media menyampaikan kebenaran yang berselubung kepentingan. Pernahkah kita bertanya, mengapa berita video porno (mirip) artis tingkat kehebohannya jauh melebihi temuan rekening babi buncit?
Agama, Perang dan Budaya Massa | a tribute to John Lennon
June 15th, 2010 § 16 Comments
Di jaman teknologi komunikasi dengan metode-metode keterhubungan baru dan penemuan kembali relasi lama yang hilang, yang menguapkan ruang dan waktu di atas papan berhuruf dan menciptakan kehadiran melalui monitor serta perangkat kamera digital, Apa yang bisa memecah-belah manusia dengan begitu hebat?
Saya sedang berangin-angin di depan rumah ketika 100 meter di depan sana, dari sebuah prosotan tempat bermain murid-murid taman kanak-kanak di halaman sebuah mesjid, seorang anak berkata pada temannya, dalam dialek khas papua, “Ko bikin apa di sini ka? Ini mesjid. Ko punya agama apa ka?” Saat itu sekitar pukul 18.30, dimana banyak anak-anak bermain di halaman mesjid sambil menunggu waktu sholat berikutnya. Heh?! Sudah sejauh itukah pengaruh sentimen antar umat beragama? Bahkan anak-anak yang belum lagi lulus pendidikan dasar dapat menerapkannya dengan sangat baik; melakukan segregasi terhadap ruang bermain.
Halaman mesjid itu adalah satu dari dua tempat lapang yang terletak tepat di tengah kompleks perumahan. Lebih dari sepuluh tahun silam halaman mesjid dan lapangan di belakangnya sudah dimanfaatkan sebagai lapangan sepak bola, bahkan jauh sebelum mesjid didirikan. Suku Ambon, Biak, Serui, Jawa, Sorong, Sentani, Batak, yang beragama Islam maupun Kristen, semua bermain di lapangan yang sama, mengejar dan menendang bola yang sama.
Saat kutanya bagaimana kehidupan orang-orang dahulu yang berbeda agama? Mama menjawab, “Dulu, jika orang Islam membangun mesjid maka orang Kristen akan ikut membantu, begitu juga sebaliknya.” Mama saya orang Ternate, sebenarnya kampungnya terpisah dari pulau Ternate, Ia menyelesaikan pendidikan guru di Ambon lalu mengajar di SMP katolik di Ternate semasa gadisnya, sebelum mengajar di Jayapura seperti sekarang Mama lama mengajar di sebuah sekolah menengah negeri di Serui. Melihat jejak rantaunya yang panjang, aku percaya apa yang Ia katakan tentang kehidupan orang-orang dahulu itu benar.
Di rumah kami di Serui dulu, dari ingatan saya yang samar, kami bertetangga sangat akrab dengan orang Nasrani, hidup bersebelahan dan menganggap saudara satu dengan yang lain. Hal yang sama juga kami alami setelah pindah ke Jayapura. Ketika konflik berbendera agama terjadi di Ambon untuk pertama kali saya bahkan merasa itu tidak benar-benar terjadi, dalam pemahaman saya saat itu konflik di Ambon hanyalah desas desus.
Setelah kepulauan rempah Maluku lalu Poso, kemudian serangkaian bom dari Medan hingga Bali, semua huru-hara itu dimulai dengan mengatasnamakan agama. Jika surga adalah tempat yang damai, mengapa kita meraihnya dengan kekerasan? Apakah tuhan menciptakan dunia hanya untuk agama tertentu? Jika “ya” adalah jawabannya, aku tidak akan mengimani tuhan yang sepicik itu.
***
Anak kecil di prosotan tadi menjadi apa yang menggejala belakangan ini: Ya, dia belum lagi lulus pendidikan dasar. Apa yang ia ketahui tentang hidup dalam usianya yang masih sangat muda itu? Sebab pemahaman yang ia miliki diserap dari lingkungan dan pengetahuan orang-orang dewasa, maka apa yang ia katakan bukan pelajaran tentang hidup, sebaliknya ia menuturkan bagaimana kita [orang dewasa] menjalani hidup.
Para kritikus budaya berkata, …di dalam masyarakat industri individu kehilangan pegangan pada identitas tradisional mereka; keluarga, desa dan agama. Untuk mengganti identitas tradisional yang hilang masyarakat berpaling pada budaya massa.
Apa yang kita alami sekarang? Ternyata budaya massa tidak mampu mengisi kekosongan identitas sampai penuh, di saat sebelah kaki kita memijak budaya massa (televisi, internet, dan jaringan makanan siap saji) kaki kita yang lain masih berdiri di lingkaran identitas tradisional yang sudah berevolusi. Agama menjadi fanatisme seram dengan cita-cita membangun desa besar dengan hanya satu jenis (agama) penduduk. Keluarga menjadi apparatus idiologi; mengisi (langsung maupun melalui perantara) kepala anak-anak dengan macam-macam ketrampilan dan nilai-nilai yang diidealkan orang tua. Semuanya dilakukan dengan dan melalui produk budaya massa; televisi, internet, tabloid, iklan, sekolah dsb.
Yayasan pendidikan bercorak agama tidak juga hilang, bahkan belakangan tumbuh subur seiring ketidakcukupan waktu orang tua untuk mengajarkan agama pada anak-anaknya. Untuk bisa bekerja, dan juga artinya memperoleh uang, orang tua meletakkan anak-anaknya di ruang kelas yang tanpa henti mengajarkan cara menyembah tuhan namun lupa bercerita tentang hidup bersama pemeluk agama lain.
(jika) budaya massa mengisi separuh identitas yang hilang
Pikiran saya lalu beralih ke John Lennon, ikonik budaya massa yang masih bertahan nyaris separuh abad (dan akan masih terus demikian). Lennon menulis “Hello Little Girl” di usia 18 tahun, bersama The Beatles menjadi cikal bakal British Invasion ke Amerika dan (salah satu) perkatannya yang terkenal “Christianity will go. It will vanish and shrink… We’re more popular than Jesus now—I don’t know which will go first, rock and roll or Christianity.” membuat Lennon menjadi musuh Ku Klux Klan.
Dekat dengan Amphetamine, LSD hingga kokain, Lennon tidak dapat menahan diri untuk tidak menulis lagu (ejekan) bagi Maharishi Mahesh Yogi, guru spiritual India, yang kedapatan melakukan pelecehan seksual pada pasien seorang perempuan ketika The Beatles menjalani terapi mental di perguruan spiritualnya di India. Jauh sebelum ekstrim kanan paman Sam mensponsori penyerangan Amerika ke Irak Lennon sudah menulis ”Imagine” dan “Give Peace a Chance” di masa perang Vietnam, dan sampai hari ini kita masih menjumpai “Imagine” sebagai lagu anti-perang universal.
Masih tentang perang, Desember 1971 Lennon dan Yoko Ono menempatkan tulisan “WAR IS OVER—IF YOU WANT IT” dalam 12 bahasa di billboard-billboard 12 kota di dunia. Menanggapi kampanye anti perang yang dilakukan pasangan Lennon-Ono, pemerintahan Richard Nixon merasa perlu memberlakukan larangan masuk ke wilayah hukum Amerika untuk keduanya, sebuah tindakan yang oleh senator Storm Thurmond disebut sebagai “strategic counter-measure” against Lennon.
Lennon menulis “Woman Is the Nigger of the World” yang disebutnya sebagai “the first women’s liberation song that went out”, di Amerika pada 1972. Jika BBC Radio melarang “Working Class People” karena memuat kata “fucking”, radio-radio Amerika menolak “Woman Is the Nigger of the World” karena kata “Nigger” itu sendiri, sebuah ironi elitisme yang lain.
Hingga kematiannya melalui 4 butir pelur yang ditembakkan Mark David Chapman pada Desember 1980, Lennon adalah seniman-anti-perang-penentang-negara yang tercatat dalam berkas berkas FBI setebal 281 halaman, terlibat dalam konser-konser protes seperti second Vietnam Moratorium Day dan konser Black Panther Party untuk pembebasan aktivis anti perang John Sinclair.
Lennon Dideportasi dari Amerika semasa pemerintahan Richard Nixon (yang juga terkait skandal Watergate) karena kampanye anti-perangnya bersama Yoko Ono, melakukan aksi Bed-In for Peace di Amsterdam Hilton, sebuah aksi damai yang sarkastik menentang perang dengan tidak meninggalkan ranjang. Terkait peristiwa Bloody Sunday 1972 yang menewaskan 27 demonstran oleh tembakan tentara, Lennon berkata akan memilih (untuk mendukung) IRA jika pilihan untuknya adalah tentara atau IRA. Belakangan U2 merekam Sunday Bloody Suday untuk mengenang pembantaian masyarakat sipil oleh tentara di Irlandia Utara itu.
***
Setelah saya berpanjang kata tentang sentimen agama, lalu apa hubungan John Lennon dengan ini semua? Bagi saya, adalah mungkin perspektif dunia (yang damai) lahir dari orang-orang biasa, Lennon hanyalah mahasiswa dari Liverpool yang bisa menyanyi dan menulis lagu, Bob Marley hanya penikmat mariyuana biasa yang merasakan penderitaan orang kulit hitam, begitu juga Martin Luther Jr dan Malcolm X, Nelson Mandela, Mahatma Gandhi atau Mother Theresa. Mereka adalah orang-orang biasa yang tumbuh dengan kepekaan dan pemikiran yang kritis terhadap dunia yang mereka tinggali.
Maka menjadi penting bagi kita mendidik diri untuk peka dan menjadi kritis, belajar tentang toleransi dan perbedaan. Agar tak ada lagi anak kecil melihat temannya atas dasar agama atau suku bangsa dan warna kulit, agar tak ada lagi negara yang mengklaim kebenaran untuk kepentingannya sendiri, dan kematian bagi agama-agama yang melacurkan nama tuhan untuk legalisasi tindak pembunuhan.
Dan jika mau, kita bisa membalik budaya massa sebagai senjata kampanye perdamaian tanpa kekerasan, seperti yang dilakukan John Lennon dan Yoko Ono dengan kampaye Bed-In for Peace yang berhasil mendapatkan liputan luas dari media massa.
You may say, I’m a dreamer
But I’m not the only one…









